Dear Aira, Apa kabarmu disana? Maaf aku baru bisa menulis surat lagi untukmu. Aira, aku sedang berada disebuah ruangan remang-remang yang didalamnya berada kenangan-kenangan kita berdua waktu itu, ketika cinta adalah pengikat bagi setiap kemustahilan yang ada, dan kasih sayang adalah penguat antara aku dan kamu. Aira, waktu bergerak begitu cepat, empat tahun sudah kau pergi meninggalkanku, dan empat tahun juga ruangan ini sepi tidak berpenghuni. Layaknya rumah mewah tapi didalamnya tak ada sedikitpun barang-barang yang tersisa. Ah, seandainya aku bisa memperbudak waktu, aku ingin sekali berusaha mengulang semuanya dan membiarkanmu terus berada disampingku. Terus menerus bercerita padaku, terus menerus terlelap di bahuku. Aku suka kata-katamu tempo hari. “Aku dan kamu adalah sebuah perantara yang Tuhan berikan untuk membuat bahagia.” Katamu dengan kerudung merah muda yang setengah tertiup angin. “Kamu kayak tahu aja bahagia itu apa.” Sahutku dengan wajah yang sediit sok tahu....