Skip to main content

Posts

Terlahir Kembali

Mimpi-mimpi yang terus mendatangiku adalah mimpi-mimpi tentang diriku yang menjadi seorang penulis banyak novel. Impian itu sebenarnya sudah aku kubur dalam-dalam semenjak 2 tahun lalu ketika 3 naskahku ditolak oleh banyak penerbit. Mulai detik itu aku merasa bahwa aku bukanlah sebaik-baiknya pemimpi. Aku mulai jarang menulis sejak penolakan terakhir yang aku dapatkan dari salah satu penerbit di Jogja, aku mulai jarang mengecek akun Wattpad dan juga blog pribadiku sendiri, aku mulai tidak memikirkan apa-apa soal konsep cerita dan lainnya yang berhubungan dengan cerita. Sehingga pada satu waktu aku memutuskan berhenti menulis sepenuhnya, tidak ada karangan cerita lagi yang akan aku buat. Kemarin malam, impian itu kembali membayangiku. Pada setiap malam ketika aku melihat bintang bersinar terang, saat rembulan sedang indah-indahnya pertanyaan itu muncul. “Apakah aku seorang pemimpi? Kalaupun iya, kenapa aku berhenti bermimpi untuk menjadi seorang penulis?” Aku mempert...
Recent posts

Tentang Kematian

Aku melihat berita beberapa hari yang lalu, pagi hari saat aku memasuki pintu kantor. Sebuah pesawat jatuh diperairan Tanjung Karawang. Aku yang melihat berita tersebut turut bersedih dan juga bertanya-tanya, kok bisa?. Aku mendengarkan dengan seksama apa yang terjadi dan bagaimana kronologi pesawat tersebut bisa jatuh. Dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang pesawat itu katanya sempat hilang kontak selama 13 menit setelah lepas landas pada Pukul 06.20 WIB. Aku khawatir, bukan karena ada salah satu orang terdekatku berada di pewasat tersebut tapi karena ini adalah kejadian kesekian pesawat yang mengalami kecelakaan di Indonesia. Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, ini musibah, hanya saja sulit sekali menerimanya. Beberapa menit kemudian teleponku berbunyi, aku melihat namamu disana. “Yang, kamu udah lihat berita soal Lion Air?” Tanyamu dengan nada khawatir. Aku belum mengucapkan sepatah kata apapun dan kamu sudah bertanya hal seperti itu. “Assalamualaikum, jangan tiba-t...

Percakapan Terakhir

Siang hari itu gue sedang asik-asiknya bekerja di salah satu percetakan di daerah Depok. Maklum karyawan baru. Tidak terlalu ramai pelanggan yang datang waktu itu, menjelang liburan akhir tahun. Gue masih memandangi jalanan dengan tatapan kosong, sambil beberapa kali menyeruput teh hangat yang sudah disiapkan di meja gue. Beberapa saat kemudian ponsel gue berbunyi, sebuah pesan singkat whatsapp datang dari sahabat gue, namanya Bunga. Kami sudah bersahabat cukup lama, sudah sekitar 4 tahunan. Gue mengenal Bunga dari perkenalan pertama kami disebuah sekolah. Tidak, kami tidak satu sekolah, Bunga dan gue belajar disekolah yang berbeda. Karena waktu itu ada sebuah event disebuah sekolah di Jakarta Selatan, gue tidak terlalu ingat event seperti apa tapi kalau tidak salah lomba futsal antar sekolah. “Fin, lagi dimana?” Gue menatap pesan singkat itu, sedikit terkejut ketika tahu Bunga tiba-tiba bertanya sama gue. Kita sudah jarang kontak-kontakkan, bahkan tidak pernah sama sekali semenja...

Mobil Bekas

“Udah  lama  ya gue nggak kesini?” Tanya gue sambil berusaha mengingat-ngingat kapan terakhir kali datang ke tempat ini, tempat dimana semuanya berawal. “Entahlah, gue lupa.” Jawab teman gue yang masih mengorek-ngorek tumpukan buku absen di meja guru. Gue dan Dika mampir sekejap ke SMP kami dahulu. Sekarang gedung ini sudah di renovasi menjadi lebih baik, menjadi lebih, menjadi lebih pantas disebut sebagai sebuah sekolah. Banyak kenangan tersimpan disini, banyak tawa, sedih dan yang lainnya terkumpul disini. Mata gue masih menyapu tempat ini dari ujung ke ujung. Ruang kelas ini adalah saksi bahwa kami pernah sesekali meributkan hal sepele tentang perempuan. Di kelas ini menjadi saksi bisu bahwa aku pernah ditolak seorang perempuan dan disuraki banyak orang dari kejauhan. Banyak hal yang tersimpan rapih dan berada di paling dalam ingatan. Rasanya menyenangkan ketika kita menyadari sesuatu bahwa dahulu kita pernah menjadi bagian dari sesuatu. Gue pernah jadi bagian dari ses...

Kematian

Beberapa hari yang lalu tetangga gue meninggal dunia. Ya, pergi ke tempat yang lebih menenangkan kata sebagian besar orang. Malam itu hari Kamis sehari sebelum libur tahun baru Islam. Sangat menyayangkan ketika berada dihari yang menyenangkan bagi seluruh umat muslim, pergilah salah satu saudara kita yang muslim. Sedikit menyedihkan. Selepas pulang kerja gue mulai mengikuti pengajian yang diadakan oleh sang pemilik rumah, gue mulai bercampur dengan bapak-bapak yang tidak terlalu akrab dengan gue. Gue adalah orang yang super sibuk, tidak terlalu super sebenarnya tapi memang waktu gue dirumah hanya gue habiskan sekitar 12  jam. 8 jam untuk tidur dan sisanya hanya makan dan menulis Diary seperti ini. Jadi gue tidak terlalu akrab dengan para tetangga. Gue tahu itu salah, karena itu gue mencoba memperbaikinya perlahan. Malam itu dingin sekali, bukan karena cuaca. Tapi entah mengapa perasaan gue berkata seluruh alam semesta mendoakan juga sedih melihat salah satu penghuni nya mening...

Dear Aira

Dear Aira, Apa kabarmu disana? Maaf aku baru bisa menulis surat lagi untukmu. Aira, aku sedang berada disebuah ruangan remang-remang yang didalamnya berada kenangan-kenangan kita berdua waktu itu, ketika cinta adalah pengikat bagi setiap kemustahilan yang ada, dan kasih sayang adalah penguat antara aku dan kamu. Aira, waktu bergerak begitu cepat, empat tahun sudah kau pergi meninggalkanku, dan empat tahun juga ruangan ini sepi tidak berpenghuni. Layaknya rumah mewah tapi didalamnya tak ada sedikitpun barang-barang yang tersisa. Ah, seandainya aku bisa memperbudak waktu, aku ingin sekali berusaha mengulang semuanya dan membiarkanmu terus berada disampingku. Terus menerus bercerita padaku, terus menerus terlelap di bahuku. Aku suka kata-katamu tempo hari. “Aku dan kamu adalah sebuah perantara yang Tuhan berikan untuk membuat bahagia.” Katamu dengan kerudung merah muda yang setengah tertiup angin. “Kamu kayak tahu aja bahagia itu apa.” Sahutku dengan wajah yang sediit sok tahu....