Skip to main content

Terlahir Kembali




Mimpi-mimpi yang terus mendatangiku adalah mimpi-mimpi tentang diriku yang menjadi seorang penulis banyak novel. Impian itu sebenarnya sudah aku kubur dalam-dalam semenjak 2 tahun lalu ketika 3 naskahku ditolak oleh banyak penerbit. Mulai detik itu aku merasa bahwa aku bukanlah sebaik-baiknya pemimpi.

Aku mulai jarang menulis sejak penolakan terakhir yang aku dapatkan dari salah satu penerbit di Jogja, aku mulai jarang mengecek akun Wattpad dan juga blog pribadiku sendiri, aku mulai tidak memikirkan apa-apa soal konsep cerita dan lainnya yang berhubungan dengan cerita. Sehingga pada satu waktu aku memutuskan berhenti menulis sepenuhnya, tidak ada karangan cerita lagi yang akan aku buat.

Kemarin malam, impian itu kembali membayangiku. Pada setiap malam ketika aku melihat bintang bersinar terang, saat rembulan sedang indah-indahnya pertanyaan itu muncul. “Apakah aku seorang pemimpi? Kalaupun iya, kenapa aku berhenti bermimpi untuk menjadi seorang penulis?” Aku mempertanyakan hal itu berulang kali, berusaha untuk menelaah baik-baik apa yang sebenarnya harus aku lakukan. Dan aku jatuh pada satu kesimpulan, bahwa aku harus mulai membuat tulisan yang baru, cerita yang baru, dan sebelum tulisan itu bisa benar-benar terbit aku tidak akan mundur kembali.

---

“Yakin lo mau nulis lagi?” Tanya seorang teman lama, aku tidak bisa memberikan kalian namanya, dia sendiri yang tidak membolehkan namanya berada dalam cerita ini. Jadi aku akan memanggil “dia” dalam cerita ini.

Aku mengangguk dengan anggukan yang mantap. “Insya Allah, impian kayak gitu selalu membanyangi gue disaat terseulit pun.”

Dia menaikkan alisnya satu. “Maksudnya?”

Aku menoleh ke atap kamarnya. “Iya, disaat paling buruk dalam hidup gue pun impian itu terus membayangi gue. Sampai gue berpikir ‘coba kalau gue terus nulis, gue mungkin udah punya beberapa prestasi dari tulisan gue’ dan pikiran macam itu selalu datang dalam kondisi apapun.” Jelas aku sama dia.

Dan aku melihatnya tersenyum. “Gue suka gaya lo, tapi gue minta satu hal sama lo.” Aku menoleh ke arahnya. “Disaat tersulitnya lo ketika menghadapi kenyataan bahwa ekspetasi nggak sesuai sama harapan jangan pernah mundur lagi, jangan pernah nyerah lagi, lo udah merasakan gimana rasanya jadi orang yang nggak punya tujuan dalam hidup, bertahan sama apa yang lo lakuin. Lo penentu masa depan lo sendiri.” Dia berkata tegas bagaikan seorang pejuang yang sedang berorasi.

Aku mengangguk. “gue paham.”

“Satu lagi.”

“Apa?”

“Jangan lupa berdoa, karena sekeras apapun lo berusaha tapi nggak pernah lo barengi sama doa dan ketergantungan lo sama Allah, semuanya akan percuma.” Jelasnya sambil memperagakan orang yang sedang berdoa. “Lo mungkin boleh jadi penentu masa depan lo sendiri, tapi Allah penentu segala sesuatunya, penentu takdir dan nasib hambaNya.” Tutupnya.

Dan sejak saat itu aku mulai memahami semuanya, aku tidak akan mundur lagi walaupun tulisanku akan ditolak ribuan penerbit sekalipun.

Tapi aku tidak menyebut ini sebagai ‘bangkit dari keterpurukan’ tapi aku menyebut sebagai ‘aku telah terlahir kembali’.


Comments