Skip to main content

Tentang Kematian



Aku melihat berita beberapa hari yang lalu, pagi hari saat aku memasuki pintu kantor. Sebuah pesawat jatuh diperairan Tanjung Karawang. Aku yang melihat berita tersebut turut bersedih dan juga bertanya-tanya, kok bisa?.

Aku mendengarkan dengan seksama apa yang terjadi dan bagaimana kronologi pesawat tersebut bisa jatuh. Dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang pesawat itu katanya sempat hilang kontak selama 13 menit setelah lepas landas pada Pukul 06.20 WIB.

Aku khawatir, bukan karena ada salah satu orang terdekatku berada di pewasat tersebut tapi karena ini adalah kejadian kesekian pesawat yang mengalami kecelakaan di Indonesia. Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, ini musibah, hanya saja sulit sekali menerimanya.

Beberapa menit kemudian teleponku berbunyi, aku melihat namamu disana. “Yang, kamu udah lihat berita soal Lion Air?” Tanyamu dengan nada khawatir. Aku belum mengucapkan sepatah kata apapun dan kamu sudah bertanya hal seperti itu.

“Assalamualaikum, jangan tiba-tiba nanya aku begitu, salam dulu.” Kataku lembut.
Aku mendengar suara penyesalanmu di ujung sana. “Aku lupa, maaf.” Nadamu mulai sedikit pelan. 

“Assalamualaikum.”

“Walaikumsalam” Jawabku. “Aku udah lihat beritanya, ngeri ya? Gimana nasib mereka yang ditinggalkan tiba-tiba. Kamu ngeri ya?” Tanyaku.

“Nggak.”

“Terus kamu kenapa nelpon aku dan dengan nada khawatir bilang soal pesawat jatuh itu?”

“Mau ngejahilin kamu hehehehehe.” Kau tertawa jahil diujung sana. “Walaupun sebenarnya aku juga miris dengan musibah ini.” Lanjutmu kemudian.

Aku menghembuskan nafas panjang, kamu memang tidak pernah bisa ditebak walaupun aku tahu kamu hanya bergurau tapi tadi kau seperti orang yang benar-benar khawatir. Aku masih bisa mendengar tawa jahilmu di ujung sana, lalu perlahan aku diam dan mulai memikirkan sesuatu. 
“Yang, gimana kalau aku juga besok seperti itu?” Tanyaku pelan.

Kamu masih tertawa jahil, namun beberapa saat kemudian kamu menyadari sesuatu. “Gimana-gimana?” Tanyamu memastikan.

“Gimana kalau besok aku seperti itu? Menjadi salah satu penumpang pesawat yang terjatuh.”

“Kamu jangan asal ngomong Yang.” Katamu dan kali ini kamu benar-benar khawatir.

“Aku nggak asal ngomong, kita pada dasarnya berada dipintu kematian Yang. Kamu dan aku, semua teman-teman kita, kematian kita sudah ditentukan jauh sebelum kita terlahir.” Ujarku padamu. Kau masih belum berkata apa-apa. “Yang, gimana kalau pada saat ini, pada saat kita berbincang di telepon adalah perbincangan terakhir kita? Gimana kalau justru aku pergi tiba-tiba dan sama sekali nggak bisa mengucapkan perpisahan apa-apa?”

Kamu mematikan telepon tiba-tiba. Aku memahaminya, tidak seharusnya aku berkata seperti itu disaat beberapa bulan lagi kita akan menikah. Dasar, aku hanya terus membuatmu khawatir tanpa pertanggung jawaban yang jelas. Tapi aku hanya ingin berkata padamu sesuatu.

Kematian adalah hal paling menyedihkan sekaligus membahagiakan dalam hidup kita, membahagiakan karena mungkin hal tersebut adalah tempat kembali paling baik. Menyedihkan, karena mungkin kita tidak sempat mengucapkan salam perpisahan kepada orang tersayang, sekedar mengecup kening atau mencium tangan orang tua kita. Kita tidak pernah tahu walaupun sesungguhnya kematian selalu membayangi kita.

Kematian adalah jodoh yang sempurna, dari kematian juga kita belajar bahwa tidak semuanya berjalan sesuai skenario yang kita inginkan dan banyak hal yang harus kita perbaiki selama kita hidup. Bukankah setiap kita ingin dipandang sebagai manusia baik-baik sebelum pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini?

Lihatlah sekeliling mulai sekarang, kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan pergi dari dunia ini. Setidaknya buatlah waktu paling berharga bersama orang-orang yang tersayang, sampai kita dibangkitkan kembali nantinya (walaupun pada saat itu kita tidak saling peduli satu sama lain).


Comments